Membaca Indikator Kekuatan Sinyal Wifi Pada Ubiquiti

Posted on

Setiap pengguna access point Ubiquiti bisa melihat kekuatan sinyal radio Wifi yang telah ditangkapnya. Dengan mengetahui parameternya bisa mengambil keputusan apakah antena perlu ditinggikan atau tidak, posisi arahnya sudah tepat atau tidak. Semakin mahal access point yang digunakan maka power dan fokusnya terhadap intervensi frekuensi juga bagus.

Salah satu merek access point terbaik yang banyak digunakan oleh orang Indonesia adalah Ubiquiti. Sebenarnya masih ada Mikrotik dan TP-Link, namun dari segi durabilitas (umur tingkat pemakaian) lebih rekomended menggunakan produknya Ubiquiti. Untuk mengetahui jaringan Wifi yang dibidik kuat atau lemah bisa melalui 2 cara yaitu melihat secara langsung pada indikator lampu yang ada pada antena atau melalui web config airOS.

Cara pertama cocok untuk Anda yang malas membuka konfigurasi airOS, namun harus mau memanjat tiang antena untuk melihatnya. Cara kedua mudah dilakukan yaitu dengan membuka 192.168.1.20 (default) setelah diganti biasanya 192.168.1.1 kemudian login menggunakan Username dan Password airOS. Kalau Anda menyerahkan installasi Wifi pada teknisi dan tidak memberitahu alamat IP access point maka bertanyalah untuk membukanya.

Parameter Kekuatan Sinyal Internet Wifi

Berdasarkan gambar di atas tingkat kehandalan (performance) Wifi dapat ditentukan oleh 6 paramater yaitu: Kekuatan sinyal (signal strength, Signal to Noise Ratio (SNR), Client Connection Quality (CCQ), Data Rate, Bandwidth, Throughput and Packet Lost.

Melihat Kekuatan Sinyal Pada Antena Feed Ubiquiti

Sinyal jaringan Wifi dapat dilihat dari lampu LED pada antena  dengan indikator sebagai berikut:

  • LED akan menyala hijau saat sinyal nirkabel kekuatan di atas -65 dBm
  • LED akan menyala hijau saat sinyal nirkabel kekuatan di atas -73 dBm
  • LED akan menyala kuning saat sinyal nirkabel kekuatan di atas -80 dBm
  • LED akan menyala merah saat sinyal nirkabel kekuatan di atas -94 dBm.

Cara Membaca Parameter Kekuatan Sinyal Pada airOS Ubiquiti

1. Kuat Sinyal (Signal Strength)

Kualitas sinyal menentukan handal tidaknya suatu jaringan Wifi, semakin kuat maka semakin baik dan handal konektivitasnya. Sinyal pada Wifi diukur menggunakan satuan dBM dengan referensi daya 1 mW = 10-3 Watt.

Rentang kuat sinyal pada Wifi yaitu antara -10 dBm sampai kurang lebih -99 dBm dimana semakin nilainya mendekati positif maka semakin besar kuat sinyalnya. Kuat sinyal dapat dikategorikan berdasarkan kualitas nya sebagai berikut:

  • Excellent (green): -57 to -10 dBm (75-100%)
  • Good (green): -75 to -58 dBm (40-74%)
  • Fair (yellow): -85 to -76 dBm (20-39%)
  • Poor (red): -95 to -86 dBm (0-19%).

2. Signal to Noise Ratio (SNR)

Sebuah sambungan nirkabel (tanpa kabel) yang menggunakan frekuensi tertentu akan menerima apapun yang ditransmisikan ditambah lagi adanya intervensi frekuensi radio dari banyaknya Wifi di udara. Jika kekuatan transmisi secara signifikan lebih kuat dari intervensi maka access point (perangkat) dapat efektif mengabaikannya. Jika sinyal yang diterima sebanding dengan intervensi maka perangkat tidak akan mampu membedakan sinyal dari perangkat lawan dengan intervensi, hal ini akan menyebabkan komunikasi nirkabel dan data tidak berjalan dengan baik.

Signal to Noise Ratio (SNR) adalah rasio perbandingan antara sinyal yang diterima dengan gangguan (derau) sekitar dengan satuan desibel (dB).

Serangkaian tes dilakukan untuk menentukan dampak dari nilai SNR pada performa nirkabel dan juga berpengaruh pada kestabilan sambungan (link) terhadap beban sambungan. Kualitas dari SNR dibagi kedalam beberapa kategori, sebagai berikut:

  • > 40 dB SNR = Excellent signal (5 bars), Cepat terkoneksi, troughput maksimal dan stabil
  • 25 dB-40 dB SNR = Very Good Signal (3-4 bars), Terkoneksi baik, throughput maksimal
  • 15 dB-25 dB SNR = Low Signal (2 bars), Terkoneksi baik, throughput tidak maksimal
  • 10 dB-15 dB SNR = Very Low Signal (1 bar), koneksi tidak terlalu stabil, throughput rendah
  • 5 dB-10 dB SNR = No Signal, koneksi sangat tidak stabil, throughput sangat rendah.

3. Client Connection Quality (CCQ)

Client Connection Quality (CCQ) adalah nilai dalam persen yang menunjukkan efektifitas bandwidth yang digunakan terhadap bandwidth maksimum yang tersedia secara teoritis. CCQ berbanding lurus dengan troughput yang bisa didapatkan pada sebuah sambungan nirkabel. Semakin bagus CCQ maka semakin tinggi troughput yang didapatkan. Tetapi kuat sinyal yang bagus tidak menjamin mendapatkan troughput yang tinggi.

Baca: Cara Menampilkan Compliance Test Ubiquiti LiteBeam M5

Hal ini disebabkan pada jaringan nirkabel memiliki dua tipe kuat sinyal (signal strength) yaitu kuat sinyal TX yang merupakan signal dari perangkat yang diterima di perangkat lawan dan kuat sinyal RX yaitu sinyal perangkat lawan yang diterima di perangkat tersebut. Jika kedua tipe kuat sinyal tidak sama (rata-rata seimbang) maka komunikasi nirkabel tidak akan berjalan dengan baik.

Semakin mendekati 100% maka semakin bagus CCQ nya. Nilai yang buruk dapat terjadi karena pengarahan antena yang kurang tepat. Nilai yang buruk juga dapat berakibat pada kualitas jaringan nirkabel menjadi kurang bagus, karena sering terjadi packet loss.

4. Data Rate

Pada komunikasi WLAN terdapat parameter Data Rate yang melambangkan kemampuan atau kapasitas transfer data (throughput) dari komunikasi wireless tersebut. Setiap satuan Data Rate menggunakan modulasi nirkabel yang berbeda. Semakin besar Data Rate maka semakin kompleks modulasi yang digunakan.

Data Rate untuk standar nirkabel 802.11b masih menggunakan modulasi standard DSSS, DPSK (Digital PSK) dan bandwith maksimal yang bisa didapatkan adalah 11Mbps. Data Rate untuk standar nirkabel 802.11a/g menggunakan gabungan modulasi yang berbeda. Untuk data rate 6 dan 9 Mbps menggunakan modulasi BPSK, dan untuk data rate 12 dan 18 Mbps menggunakan modulasi QPSK, sedangkan untuk Untuk data rate 24 hingga 54 Mbps menggunakan modulasi QAM.

5. Packet Loss

Packet loss merupakan besar dari paket yang hilang dalam jaringan karena terjadi tabrakan atau collision. Bisa terjadi ketika satu atau lebih paket data yang dikirim melalui jaringan komputer tidak dapat mencapai tujuan. Yang menjadi faktor timbulnya packet loss adalah kepadatan lalu lintas data dan bandwidth. Semakin besar bandwidth, maka akan memperkecil terjadinya tabrakan data antara user yang satu dan yang lainnya.

Jika terjadi packet loss maka protokol jaringan yang ada pada router akan meminta pengirim untuk mengirim ulang paket data yang hilang tersebut. Pada saat proses pengiriman ulang data yang hilang tersebut maka akan menyebabkan meningkatnya nilai waktu tunggu pengiriman paket (jitter). Detektor dari packet loss berada didalam router yang bernama Carrier Sense Multiple Access And Collision Detection (CSMA-CD) pada jaringan LAN dan Carrier Sense Multiple Access And Collision Avoidance (CSMA-CA) untuk jaringan nirkabel. Standar ITU (International Telecommunication Union) untuk packet loss adalah tidak boleh melebihi 10% dari jumlah paket data keseluruhan.

6. Bandwidth dan Throughput

Bandwidth (lebar pita) adalah besaran yang menunjukkan seberapa banyak data yang dapat dilewatkan dalam koneksi melalui sebuah jaringan, yang menunjukkan kemampuan maksimum dari suatu alat untuk menyalurkan informasi dalam satuan waktu detik. Satuan yang dipakai untuk bandwidth adalah bit/detik (bits per second) atau sering disingkat sebagai bps.

Ternyata konsep bandwidth tidak cukup untuk menjelaskan kecepatan jaringan dan apa yang terjadi di jaringan. Untuk itulah konsep throughput muncul. Throughput adalah bandwidth aktual yang terukur pada suatu ukuran waktu tertentu dalam suatu hari menggunakan rute internet yang spesifik ketika sedang mendownload suatu file. Throughput lebih pada menggambarkan bandwidth yang sebenarnya (aktual) pada suatu waktu tertentu dan pada kondisi dan jaringan internet tertentu yang digunakan untuk mendownload suatu berkas (file) dengan ukuran tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *